Minggu, 29 September 2013


“Diujung Pengharapanku"


Oleh : Pipit Pratiwi
XI TKI B
           
            Malam ini akan menjadi malam yang panjang untukku, karena malam ini aku merasa ada luka lagi. Ya luka ini akibat ulahku sendiri, aku sadar semua ini salahku, salahku yang tak beri kabar pada ibuku sehingga membuat Ia khawatir dan akhirnya hanya menimbulkan pertengkaran yang sebenarnya sama sekali tidak aku inginkan. Ibu, aku minta maaf atas segala kesalahan yang pernah aku perbuat baik yang aku sengaja ataupun tidak, karena semua itu khilafku yang semata-mata hanyalah manusia biasa yang tak pernah luput dari salah. Maaf karena selama ini aku hanya bisa menjadi beban dalam keluarga, aku tidak bisa menjadi seperti apa yang ibu mau walaupun aku sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik di mata ibu. Tak ada sedikitpun niatku membuat ibu luka, membuat ibu marah dihatiku dan untukku ibu itu segalanya, bagi aku ibu nyawa aku. Ibu sekali lagi aku minta maaf setulus-tulusnya, maaf karena aku hanya bisa membuatmu cape sama tingkah laku aku, maaf karena aku hanya bisa menjadi beban, dan maaf karena aku sudah membuatmu menangis.
            Adzan maghrib pun telah dikumandangkan dengan nada yang tinggi, perasaan was-wasku dengan apa yang akan terjadi setibanya aku di rumah nanti. :I
            Dan setiba aku di rumah, suasana itu mulai menyelimuti ruang tamu kami. Tak lamapun ibu bertanya, “kok pulangnya sore de?”.
Aku jawab apa adanya saja,“iya bu, dede baru selese ngerjain tugas sama yesi.”
            “Ngerjain tugas dimana? Sampai pulang sore ini..??!” tanya ibu dengan nada yang mulai keras.
            ”Di warung depan sekolah bu.” Jawabku lemas.


            Namun dengan nada yang tak biasa ibu bertanya, “ Apa anak sekolah pantes pulang maghrib? Ibu tuh udah telefon ke BP, jadi jangan kaget kalo besok-besok kamu di panggil sama BP.!!”
            “Iya, Nana juga udah ngga bakalan kaget kalo kapan-kapan di panggil sama guru BP” jawabku. Kakakku terdiam seribu kata, karena aku yakin dia pun takut dengan ibu yang sedang emosi.
             “ Na, Nana  itu sudah SMA,  sudah dewasa Na, dan Nana itu sudah bukan anak kecil lagi. Ibu cape bilangin kaya gini terus, di pelanin malah ngga tahu, malah di sepelein perhatian ibu.  Kamu kira ibu ngga merhatiin kamu? Biaya sekeloh  sekarang mahal Na!! Apa lagi sekolah lanjutan!” kata ibu dengan nada emosi.
Aku terdiam sejenak, dan suasana pun menjadi hening seketika.
            “Iya bu, aku bener-bener ngerjain tugas, ngga main-main.” Sahutku dengan mata yang mulai memanas.
            “ Kamu itu harusnya bersyukur masih bisa dilanjutin sekolahnya.!! Coba lihat anak lain, mau sekolah juga orangtuanya ngga ada yang mau biayain, harusnya kamu itu bisa mikir kesitu, Lihat itu ke bawah..!! Bukannya lihat orang lain yang mampu, harus perihatin Na?!” kata ibu dangan nada membentak.
            ”Toh aku ngerjain tugas bener-bener bu, kalo ngga percaya tanya ke Ane.!” Sahutku dengan air mata yang mulai bahasi pipi.
           
            Dan bla..bla..bla..bla.. hingga sampailah pada kata yang membuatku benar-benar merasa aku hidup, di besarkan, dan di sekolahkan selama ini aku merasa hanya menjadi beban untuk ibuku. Jika aku bisa mengulang waktu aku ingin sebaiknya aku tak pernah di lahirkan ke dunia ini. Setelah debat dengan ibuku, aku pun tanpa basa-basi masuk kamar. Di tempat ini lah aku bisa luapkan semua rasa sakitku, semua tekanan batin yang aku rasakan, tempat dimana aku menghabiskan waktuku untuk merenungi apa saja kejadian yang aku alami selama hidupku. Tempat yang tepat untuk menangis semalam penuh.
            Aku rasa semuanya telah sampai pada ujung pengharapanku, aku sudah lelah, aku ingin pulang dan aku ingin istirahat. Bagiku kehidupan ini sangatlah memberi makna untukku, semua senyum persahabatan, canda tawa bersama orang-orang terdekat sangat menghiburku dan semua kisahku, deritaku, bahagiaku. Aku merasakan dari sebuah ujung perjalanan hanya lelah tapi lelah yg menyenangkan, lelah yg memiliki banyak sekali kenangan, lelah yg aku rasakan lelah yg sangat berkesan. Aku bahagia bisa di berikan kesempatan untuk dapat merasakan apa itu dunia, apa itu keluarga, apa itu cinta, dan apa itu persahabatan....”  




                                                                                                                        

Kamis, 26 September 2013

“MEMORY’AN”

Selembut jalur angin itu,

Dia begitu anggun aku pandangi

Sejuknya udara waktu itu,

Seperti dia tersenyum padaku..iya padaku

JJJ

Setiap gerak-geriknya, renyah tawanya

Keramahan dan keusilannya

Buatku selalu merindukannya...ya merindunya

Hingga saat ini..

Saat goresan ini terbentuk dalam kehidupanku

Dan merubah segalanya..  :D

Apakah dia sadar?

Dengan waktu itu..?

Dimana aku selalu membuatku mikili hal yang lain

Dimana kata-kata itu terucap dari mulut kakuku

Detak-detak itu sungguh berdenyut dengan hebat..


JJJ

Rabu, 25 September 2013


JSomething About LoveJ


Cinta, siapa yang tahu kapan datangnya hal itu..?

Cinta, kita ngga akan pernah tenang dibuatnya ^_^

Cinta, tak jarang aku tersenyum dibuatnya..

Tapi  tak jarang pula hal itu buat aku tertunduk lesuL

Tapi cinta selalu buatku semangat akan kehidupan

Cinta, dia penuhi ruang kosong jiwaku dengan warnanya

Cinta, i’m falling love dibuatnya..terhanyut

JJJ

Namun itu hanya sesaat....”

Ngga semua itu selamanya, ngga ada yang abadi

Termasuk juga dengan cinta ini..

Lebur bersama tangisan..

Pudar terkikis lara..

Hidup memang ngga seperti yang diharapkan

Jangan pernah ku menyesali

Cinta.......terlalu manis dan indah untuk dihapus

Cinta.......indah namun cinta itu semu

Cinta......hadir namun cinta pula sangat mudah ia pergi

Seperti cinta..saat ini

LLL
“DAN....???”

Adakah matahari esok pagi..

Mau berbagi kilau wajah??

Apa masih sempat aku

Bertahan merajut hari dengan sehelai harapan

Kiranya ada apa dibalik tubuh?

Mulai telihat hatiku yang cadas

Setelah mengemas tawa dan derita LL


Aku lahir dari malam..


Aku datang dari kehampaan


Kiranya ada apa dibalik kekosongan??

Tetap tak pernah aku gubris..!!

Cuma aku dan lilin ini yang merasa

Disaat semua menghilang dan tak kembali


Dan aku terkubur kehampaan.. L
“JINGGA”
                                      Karya : Pipit Pratiwi
Jingga
suatu warna kehidupan yang mempesona
seperti dirimu
kau datang hanya sesaat namun mengesankan
Jingga hanya muncul di awal dan di akhir
layaknya dirimu
suatu hal terindah dalam hari-hariku
yang akan aku kenang dan kutunggu kehadirannya
Jingga, menjadi warna perbedaan dalam hidup
seperti  jarak  yang membuat kita terlihat berbeda
Dan jingga..
selalu membuat semua mata tak ingin berpaling darinya
seperti dirimu,..
yang selalu membuat diri ini tak ingin beranjak jauh darimu.


“Luka Sepotong Hati”
Langit membisu mendengar rintihan air mataku
sepotong hati kini telah tersayat – sayat
hingga tak berwujud
Lidahku kelu, tak berucap
malam pun mati bersama dengan kasihku
angin malam membekukan darah dari luka asmara ini
Semakin lama bangkai asmaraku kian membusuk !
hingga rembulan enggan berjumpa dan memeluk punguknya
Dan kini aku tanpa serpihan hati
bagai seonggok daging yang tak bernyawa.

( Pipit Pratiwi )
“Sajak Merah Jambu”


sepasang mata ini tertunduk
menatap dalam-dalam dan memahami
seketika awan berpindah
membuat sinar purnama tembus kedalam hatiku
menyinari setiap lembaran rasa dalam batin
pikiranku seakan terpaku
pada sosok yang meneduhkan hati
purnama pun tahu apa yang kupikirkan
hingga membuatnya tersenyum manja
langit berhiaskan bintang pun
kini bersedia berbagi satu bintangnya padaku
angin membelaiku lembut
berbisik tentang cinta..
Cintailah dia seperti embun menyambut surya
maka ketulusan yang akan dia rasakan
begitupun denganmu
( Pipit Pratiwi )