“Diujung
Pengharapanku"
Oleh : Pipit Pratiwi
XI TKI B
Malam ini akan menjadi malam yang panjang untukku, karena malam ini aku merasa ada luka lagi. Ya luka ini akibat ulahku sendiri, aku sadar semua ini salahku, salahku yang tak beri kabar pada ibuku sehingga membuat Ia khawatir dan akhirnya hanya menimbulkan pertengkaran yang sebenarnya sama sekali tidak aku inginkan. Ibu, aku minta maaf atas segala kesalahan yang pernah aku perbuat baik yang aku sengaja ataupun tidak, karena semua itu khilafku yang semata-mata hanyalah manusia biasa yang tak pernah luput dari salah. Maaf karena selama ini aku hanya bisa menjadi beban dalam keluarga, aku tidak bisa menjadi seperti apa yang ibu mau walaupun aku sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik di mata ibu. Tak ada sedikitpun niatku membuat ibu luka, membuat ibu marah dihatiku dan untukku ibu itu segalanya, bagi aku ibu nyawa aku. Ibu sekali lagi aku minta maaf setulus-tulusnya, maaf karena aku hanya bisa membuatmu cape sama tingkah laku aku, maaf karena aku hanya bisa menjadi beban, dan maaf karena aku sudah membuatmu menangis.
Adzan maghrib pun telah
dikumandangkan dengan nada yang tinggi, perasaan was-wasku dengan apa yang akan
terjadi setibanya aku di rumah nanti. :I
Dan setiba aku di rumah, suasana itu
mulai menyelimuti ruang tamu kami. Tak lamapun ibu bertanya, “kok pulangnya
sore de?”.
Aku jawab apa adanya saja,“iya bu, dede baru selese ngerjain tugas sama yesi.”
Aku jawab apa adanya saja,“iya bu, dede baru selese ngerjain tugas sama yesi.”
“Ngerjain
tugas dimana? Sampai pulang sore ini..??!” tanya ibu dengan nada yang mulai
keras.
”Di warung depan sekolah bu.” Jawabku lemas.
”Di warung depan sekolah bu.” Jawabku lemas.
Namun dengan nada yang tak biasa ibu
bertanya, “ Apa anak sekolah pantes pulang maghrib? Ibu tuh udah telefon ke BP,
jadi jangan kaget kalo besok-besok kamu di panggil sama BP.!!”
“Iya, Nana juga udah ngga bakalan
kaget kalo kapan-kapan di panggil sama guru BP” jawabku. Kakakku terdiam seribu
kata, karena aku yakin dia pun takut dengan ibu yang sedang emosi.
“ Na, Nana itu sudah SMA,
sudah dewasa Na, dan Nana itu sudah bukan anak kecil lagi. Ibu cape
bilangin kaya gini terus, di pelanin malah ngga tahu, malah di sepelein perhatian
ibu. Kamu kira ibu ngga merhatiin kamu?
Biaya sekeloh sekarang mahal Na!! Apa
lagi sekolah lanjutan!” kata ibu dengan nada emosi.
Aku terdiam
sejenak, dan suasana pun menjadi hening seketika.
“Iya bu, aku bener-bener ngerjain
tugas, ngga main-main.” Sahutku dengan mata yang mulai memanas.
“ Kamu itu harusnya bersyukur masih bisa dilanjutin sekolahnya.!! Coba lihat anak lain, mau sekolah juga orangtuanya ngga ada yang mau biayain, harusnya kamu itu bisa mikir kesitu, Lihat itu ke bawah..!! Bukannya lihat orang lain yang mampu, harus perihatin Na?!” kata ibu dangan nada membentak.
“ Kamu itu harusnya bersyukur masih bisa dilanjutin sekolahnya.!! Coba lihat anak lain, mau sekolah juga orangtuanya ngga ada yang mau biayain, harusnya kamu itu bisa mikir kesitu, Lihat itu ke bawah..!! Bukannya lihat orang lain yang mampu, harus perihatin Na?!” kata ibu dangan nada membentak.
”Toh aku ngerjain tugas bener-bener
bu, kalo ngga percaya tanya ke Ane.!” Sahutku dengan air mata yang mulai bahasi
pipi.
Dan bla..bla..bla..bla.. hingga
sampailah pada kata yang membuatku benar-benar merasa aku hidup, di besarkan,
dan di sekolahkan selama ini aku merasa hanya menjadi beban untuk ibuku. Jika
aku bisa mengulang waktu aku ingin sebaiknya aku tak pernah di lahirkan ke
dunia ini. Setelah debat dengan ibuku, aku pun tanpa basa-basi masuk kamar. Di
tempat ini lah aku bisa luapkan semua rasa sakitku, semua tekanan batin yang
aku rasakan, tempat dimana aku menghabiskan waktuku untuk merenungi apa saja
kejadian yang aku alami selama hidupku. Tempat yang tepat untuk menangis
semalam penuh.